Tiada pagi tanpa ucapan syetan yang
muncul, "Anda mau makan apa? Mau memakai pakaian mana? Mau kemana hari
ini?" Lantas ku katakan pada syetan. "Aku akan makan kematian dan
memakai kain Kafan serta aku akan menghuni kuburan".
"Siapa yang memasuki madzhab
kami (tashawwuf) hendaknya empat perkara kematian ini ada dalam dirinya:
1. Mati Putih: yaitu berlapar-lapar.
2. Mati Hitam: yaitu: menanggung
beban penderitaan orang lain.
3. Mati Merah: yaitu beramal secara
ikhlas dalam menentang hawa nafsu.
4. Mati Hijau: yaitu membuang
ketololan satu demi satu".
"Apabila waktu shalat tiba,
saya segera melakukan wudu lahir dan batin.
Wudu lahir adalah mencuci
badan dengan air. Sedangkan wudu batin adalah mencuci jiwa dengan tujuh
sifat. Yaitu Taubat, menyesali dosa-dosa masa lalu, Melepaskan
diri dari ketergantungan pada dunia, menanggalkan pujian dan
penghormatan pada selain Allah, melepaskan diri dari
kendali benda, membuang rasa dendam kesumat, dan menyingkirkan
kedengkian. Setelah itu aku menuju mesjid dan bersiap melaksanakan
salat sambil memusatkan pandangan ke kiblat. Aku tampil sebagai
pengemis yang seakan-akan Allah di hadapanku, surga di sebelah
kananku, neraka disebelah kiriku, Izrail, si pencabut nyawa, di belakangku,
dan titian Shiratal Mustaqim dibawah telapak kakiku. Itulah salatku yang
terakhir. Setelah itu aku berniat dan bertakbir lalu membaca surah
Al-Fatihah dengan seksama seraya merenungkan arti setiap kata
dan ayat. Kemudian aku lakukan rukuk dan sujud dengan penuh kekhusyukan
dan kerendahan hati sambil menumpahkan air mata. Tasyahhud
kulakukan dengan penuh pengharapan, lalu ku ucapkan salam dengan
ikhlas sepenuhnya. Sejak tiga tahun, salat yang demikianlah yang
kulakukan."